ADVERTISEMENT
Scroll to continue reading

Temuan CKG Ungkap Anak dan Remaja Indonesia Lima Kali Lebih Rentan Depresi

Ilustrasi kesehatan mental anak dan remaja Indonesia terkait temuan CKG Kemenkes

Intips.net - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan temuan penting dari pelaksanaan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) terkait kondisi kesehatan mental masyarakat Indonesia. Data yang dihimpun selama satu tahun terakhir menunjukkan bahwa anak-anak dan remaja di bawah usia 18 tahun memiliki risiko gangguan kesehatan mental hingga lima kali lebih tinggi dibandingkan orang dewasa.

Temuan tersebut terutama berkaitan dengan meningkatnya kasus kecemasan dan depresi pada kelompok usia muda. Fakta ini menjadi sorotan karena menunjukkan adanya persoalan serius yang perlu ditangani secara bersama oleh berbagai pihak.

Depresi Remaja Sudah Lama Ada, Kini Lebih Terlihat

Psikolog Anak dan Remaja Universitas Indonesia, Rose Mini, menjelaskan bahwa kasus depresi pada remaja sebenarnya bukan fenomena baru. Namun, kondisi tersebut kini lebih mudah teridentifikasi seiring meningkatnya keterbukaan informasi dan kesadaran masyarakat terhadap isu kesehatan mental.

“Dulu banyak yang memendam. Sekarang, dengan informasi yang lebih terbuka, anak-anak dan remaja lebih berani mengungkapkan apa yang mereka rasakan,” ujarnya.

Meski demikian, Rose menilai temuan CKG yang menyebut risiko depresi lima kali lebih tinggi pada anak dan remaja perlu menjadi bahan kajian lebih mendalam. Data tersebut, menurutnya, penting dijadikan dasar penelitian lanjutan untuk memahami akar masalah kerentanan kesehatan mental generasi muda di Indonesia.

Stres Berkepanjangan dan Lingkungan Tak Mendukung

Rose menyebut stres berkepanjangan sebagai salah satu pemicu utama depresi pada remaja, terutama ketika lingkungan sekitar tidak memberi ruang aman untuk mengekspresikan perasaan.

“Pada remaja, depresi sering ditandai dengan perubahan perilaku. Mereka bisa menarik diri dari lingkungan, kehilangan semangat hidup, menjadi sangat sensitif, hingga mengalami berbagai masalah lain yang menyertai,” jelasnya.

Tekanan sosial juga menjadi faktor penting, baik yang muncul di dunia nyata maupun di ruang digital. Paparan media sosial yang berlebihan, menurut Rose, kerap memicu stres dan rasa tidak aman, terutama ketika remaja membandingkan dirinya dengan kehidupan orang lain yang tampak lebih ideal.

Selain itu, faktor keluarga dan lingkungan turut berperan besar, mulai dari trauma masa lalu, pola asuh yang kurang tepat, minimnya perhatian dan kasih sayang, hingga pengalaman perundungan. Tekanan tinggi untuk berprestasi, baik di sekolah maupun bidang lain, juga berpotensi memperparah kondisi psikologis anak dan remaja.

Pentingnya Menciptakan Lingkungan Aman

Rose menekankan bahwa temuan ini seharusnya menjadi momentum bersama untuk lebih serius menangani isu kesehatan mental. Pemerintah, menurutnya, perlu memandang persoalan ini sebagai masalah penting yang memerlukan pendekatan komprehensif dan berkelanjutan.

Namun, tanggung jawab tersebut tidak hanya berada di pundak pemerintah. Lingkungan sekitar, mulai dari keluarga, sekolah, hingga masyarakat luas, juga perlu lebih peka terhadap tanda-tanda depresi pada anak dan remaja.

Di lingkungan sekolah, misalnya, penting untuk menciptakan suasana yang aman, bebas dari perundungan, serta mendukung perkembangan moral dan emosional siswa. Nilai-nilai empati, pengendalian diri, keadilan, toleransi, dan saling menghormati perlu ditanamkan agar siswa merasa nyaman dan diterima.

Rose juga menyoroti praktik baik yang sudah diterapkan di beberapa sekolah, seperti program teman konsultasi. Dalam program ini, siswa tertentu dibekali pengetahuan dasar agar mampu menjadi pendengar yang baik bagi teman sebayanya.

“Dengan begitu, siswa bisa lebih mudah menyalurkan curahan hati kepada teman yang seusia, yang sering kali lebih memahami kondisi mereka,” katanya.

Ke depan, konsep tersebut dinilai perlu diperluas dan dikembangkan. Selain membantu teman sebaya, siswa yang berperan sebagai teman curhat juga dapat menjadi mitra bagi guru Bimbingan Konseling (BK) dalam mendampingi siswa yang mengalami tekanan mental.(*)
Posting Komentar